Membaca dan menulis adalah sebuah kombinasi yang tidak bisa dipisahkan. Jika kamu ingin mengenal dunia lebih dekat, buka dan bacalah bukumu, tapi jika kamu ingin dikenal dunia maka menulislah dengan karya-karya yang menakjubkan.
Kamis, 28 Mei 2020
Menulis dan Tingkat Literasi Masyarakat
Rabu, 27 Mei 2020
Movie "House of Hummingbird"
"Penuh dengan orang-orang yang wajahnya kita kenal,tapi berapa banyak dari mereka yang benar-benar memahami dirimu ?"
Ungkapan "Masa remaja adalah masa yang paling indah" rupanya tidak berlaku bagi seorang Eun Hee. Bagaimana tidak, gadis 14 tahun terlahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara dengan seorang kakak laki dan kakak perempuan, dibesarkan dengan lingkungan rumah susun yang sangat sederhana , kedua orang tuanya seharian harus mencari nafkah dengan berjualan kue beras. Eun Hee sering melihat kakak perempuannya membolos bahkan membawa teman pria tidur di kamar mereka. Kakak laki-lakinya merupakan kebanggan sang ayah, selalu mendapat perhatian dan semua yang terbaik di rumah itu , tak ayal pun sering berlaku semena-mena, memukul Eun Hee dengan tongkat kendo apabila tidak mau melakukan perintahnya. Perang mulut bahkan menjurus kekerasan fisik oleh kedua orang tuanya merupakan pemandangan yang biasa terjadi di depan anak-anak. Anehnya, keesokan hari kedua orangtuanya sudah duduk dan berbincang seperti biasa. Tidak ada kehangatan yang Eun Hee dapatkan di dalam keluarga, dia tidak bisa berbagi akan apa yang dialami kepada ayah ibunya maupun saudaranya. Hidupnya benar-benar sendiri dan mandiri bahkan tanpa pendampingan keluarga saat dia harus menjalani pemeriksaan tumor dan biopsi.
Jumat, 07 Februari 2020
Review Film "Semes7a"
Semes7a ( dibaca Semesta ) menyuguhkan 7 cerita propinsi Indonesia, dari 7 sosok inspiratif masa kini yang berjuang untuk pelestarian alam, beserta 7 kisah mereka bersama Sang Pencipta. Ya.. karena 7 adalah angka sakral dalam beberapa agama dan kepercayaan maka menyelipkan "7" di dalam judul sangat mewakili apa yang akan disampaikan disini.
Saya bukan pengamat film Indonesia tapi saat melihat portofolio dari orang-orang di balik pembuatannya, membuat saya yakin bahwa film ini dibuat sangat serius dan artistik sehingga durasi 88 menit tidak terasa.
Berbekal isu krisis iklim di 7 daerah dari Timur sampai Barat , Utara sampai Selatan Indonesia, film besutan sutradara Chairun Nissa tidak sekedar menampilkan informasi dan fakta , namun juga memadukannya dengan cinematography keindahan alam Indonesia dari berbagai sisi ditambah dengan tata suara yang elegan. Tidak mengherankan jika film ini terpilih sebagai nominasi Festival Film Indonesia 2018.
Note : tulisan di bawah mengandung spoiler !
Rabu, 24 April 2019
Mengagumi Keindahan Bunga-bunga Musim Semi di Miharashi Hill ~ Hitachi Seaside Park
Semenjak saya kecil, Jepang selalu menjadi salah satu negara impian untuk saya sambangi. Bermula dengan kebudayaannya yang unik, landscape yang memanjakan mata, teknologinya modern dan aneka hal menarik lainnya termasuk pasar tradisional hingga kulinernya.
Seperti kali ini, kunjungan kedua saya ke Jepang bersama suami dan Karen juga penuh dengan memori keindahan. Dengan jadwal yang masih fleksibel, saya memasukkan bukit yang penuh bunga warna biru ke dalam bucket list. Entah kenapa melihat bukit yang berubah warna itu selalu menjadi buruan saya ^.^
Sehari sebelum terbang ke Jakarta saya sempatkan browsing untuk memantapkan urutan jadwal perjalanan kami karena saya memutuskan memakai Tokyo Wide Pass selama 3 hari jadi harus digunakan dan diaktifkan seefisien mungkin. Maklum harga TWP tidak murah bagi kantong kami, namun sangat berguna untuk seputaran Tokyo. Soal TWP akan saya bahas di postingan lain.
Kami memang memilih waktu musim semi untuk menjelajah Jepang , selain suhu yang masih sejuk juga tentu saja untuk berburu bunga-bunga 4 musim. Pucuk dicinta ulam tiba, jadwal kami bertepatan dengan mekarnya bunga Tulip dan Nemophila Blue di Miharashi Hill ( jadwal mekarnya bunga bisa cek di sini ). Senang bukan kepalang karena mekarnya bunga memang bisa diprediksi tapi kepastian kapan mekarnya bukan tergantung manusia melainkan Tuhan dan alam yang bekerja ^.^
To be continued... Sementara spoiler foto2 dulu yaaaa
Seperti kali ini, kunjungan kedua saya ke Jepang bersama suami dan Karen juga penuh dengan memori keindahan. Dengan jadwal yang masih fleksibel, saya memasukkan bukit yang penuh bunga warna biru ke dalam bucket list. Entah kenapa melihat bukit yang berubah warna itu selalu menjadi buruan saya ^.^
Sehari sebelum terbang ke Jakarta saya sempatkan browsing untuk memantapkan urutan jadwal perjalanan kami karena saya memutuskan memakai Tokyo Wide Pass selama 3 hari jadi harus digunakan dan diaktifkan seefisien mungkin. Maklum harga TWP tidak murah bagi kantong kami, namun sangat berguna untuk seputaran Tokyo. Soal TWP akan saya bahas di postingan lain.
Kami memang memilih waktu musim semi untuk menjelajah Jepang , selain suhu yang masih sejuk juga tentu saja untuk berburu bunga-bunga 4 musim. Pucuk dicinta ulam tiba, jadwal kami bertepatan dengan mekarnya bunga Tulip dan Nemophila Blue di Miharashi Hill ( jadwal mekarnya bunga bisa cek di sini ). Senang bukan kepalang karena mekarnya bunga memang bisa diprediksi tapi kepastian kapan mekarnya bukan tergantung manusia melainkan Tuhan dan alam yang bekerja ^.^
To be continued... Sementara spoiler foto2 dulu yaaaa
Kamis, 14 Maret 2019
Homemade Salad Bangkok
Sewaktu kami sekeluarga camping bersama CMid Semarang , ada seorang ibu menawarkan brokoli yang masih berwarna hijau tua dan segar kepada kami. Berhubung Karen termasuk penggemar brokoli , jadi kami memutuskan membelinya. Harga satu dunak kecil Rp. 15.000,- berisi enam kepala brokoli yang ukurannya tidak terlalu besar.
Teman kami , Anna juga membeli brokoli dan dia bilang biasa hanya direbus untuk dimakan begitu saja seperti salad.
Di perjalanan pulang hubby juga mengusulkan brokolinya sebagian dibuat salad saja.
Jadi keesokan harinya di supermarket, saya mencari saus salad siap pakai merk K*wpie , namun berhubung rasa yang saya inginkan tidak tersedia membuat saya terpikir bikin saus sendiri. Kebetulan ada promo selai kacang di supermarket langsung terbesit aha.. Coba saja bikin Salad Bangkok. Rasa Salad Bangkok paling berkesan yang pernah saya makan adalah pemberian i'ik saya ( adik dari mama ). Kekhasan Salad Bangkok ada pada selada, kering kentang, saus kacang dan nanas, sayur yang lain bisa divariasikan.
Untuk pemilihan sayur lain saya berjalan ke daerah sayuran segar, pas banyak sayur organik yang menggoda mata berjejer di lemari pendingin jadi tambah pengen bercocok tanam ala Little Forest wkwk..kemudian saya pilih beberapa macam sayur yang ingin saya pakai.
Bermodal coba-coba dan bahan saus yang sederhana , jadilah Salad Bangkok ala saya. Menurut saya pribadi dan hubby rasa saus ini cocok dengan lidah kami terutama saat berpadu dengan nanas manis dan sayurnya 😉.
Teman kami , Anna juga membeli brokoli dan dia bilang biasa hanya direbus untuk dimakan begitu saja seperti salad.
Di perjalanan pulang hubby juga mengusulkan brokolinya sebagian dibuat salad saja.
Jadi keesokan harinya di supermarket, saya mencari saus salad siap pakai merk K*wpie , namun berhubung rasa yang saya inginkan tidak tersedia membuat saya terpikir bikin saus sendiri. Kebetulan ada promo selai kacang di supermarket langsung terbesit aha.. Coba saja bikin Salad Bangkok. Rasa Salad Bangkok paling berkesan yang pernah saya makan adalah pemberian i'ik saya ( adik dari mama ). Kekhasan Salad Bangkok ada pada selada, kering kentang, saus kacang dan nanas, sayur yang lain bisa divariasikan.
Untuk pemilihan sayur lain saya berjalan ke daerah sayuran segar, pas banyak sayur organik yang menggoda mata berjejer di lemari pendingin jadi tambah pengen bercocok tanam ala Little Forest wkwk..kemudian saya pilih beberapa macam sayur yang ingin saya pakai.
Bermodal coba-coba dan bahan saus yang sederhana , jadilah Salad Bangkok ala saya. Menurut saya pribadi dan hubby rasa saus ini cocok dengan lidah kami terutama saat berpadu dengan nanas manis dan sayurnya 😉.
Selasa, 01 Januari 2019
Mr. Sunshine - Korean Drama Review
"A history to remember, a sacrifice that shouldn’t forget"
Sepanjang tahun 2018 drama korea yang saya tonton bisa dihitung dengan jari , dan bahkan untuk saeguk ( drama / movie korea yang berlatar belakang sejarah / masa lampau ) seingat saya hanya ada 3 drama yang diluncurkan di Korsel ( Grand Prince, Mr. Sunshine, 100 days Prince ) . Saya pribadi memang lebih suka mengikuti drakor yang bergenre Saeguk karena sering ditampilkan secara kolosal, didukung dengan pemandangan yang indah , hanbok-hanbok berwarna mencolok, dan paling tidak menambah sedikit wawasan sejarah dan budaya masa lalu.
Senin, 19 November 2018
Movie Korea "Little Forest"
Korea Selatan sering mengangkat film layar lebar yang bertema politik, action, romance , sejarah dan fantasy. Nah, movie Little Forest ini menyajikan tema yang lain dari kebanyakan , setelah saya menonton film ini langsung ada keinginan untuk memasak , bercocok tanam dan hidup di pedesaan yang tenang wkwk.. Yuppp movie ini termasuk 'healing 'movie membuat penonton merasa rileks dan ingin segera melepaskan kepenatannya dengan alam pedesaan.
Langganan:
Postingan (Atom)






