Pages

Jumat, 07 Februari 2020

Review Film "Semes7a"



Semes7a ( dibaca Semesta ) menyuguhkan 7 cerita propinsi Indonesia, dari 7 sosok inspiratif masa kini yang berjuang untuk pelestarian alam,  beserta 7 kisah mereka bersama Sang Pencipta. Ya.. karena 7 adalah angka sakral dalam beberapa agama dan kepercayaan maka menyelipkan "7" di dalam judul sangat mewakili apa yang akan disampaikan disini.

Saya bukan pengamat film Indonesia tapi saat melihat portofolio dari orang-orang di balik pembuatannya, membuat saya yakin bahwa film ini dibuat sangat serius dan artistik sehingga durasi 88 menit tidak terasa.

Berbekal isu krisis iklim di 7 daerah dari Timur sampai Barat , Utara sampai Selatan Indonesia, film besutan sutradara Chairun Nissa  tidak sekedar menampilkan informasi dan fakta , namun juga memadukannya dengan cinematography keindahan alam Indonesia dari berbagai sisi ditambah dengan tata suara yang elegan. Tidak mengherankan jika film ini terpilih sebagai nominasi Festival Film Indonesia 2018.

Note : tulisan di bawah mengandung spoiler !

Rabu, 24 April 2019

Mengagumi Keindahan Bunga-bunga Musim Semi di Miharashi Hill ~ Hitachi Seaside Park

Semenjak saya kecil, Jepang selalu menjadi salah satu negara impian untuk saya sambangi. Bermula dengan kebudayaannya yang unik, landscape yang memanjakan mata, teknologinya modern dan aneka hal menarik lainnya termasuk pasar tradisional hingga kulinernya.

Seperti kali ini, kunjungan kedua saya ke Jepang bersama suami dan Karen juga penuh dengan memori keindahan. Dengan jadwal yang masih fleksibel, saya memasukkan bukit yang penuh bunga warna biru ke dalam bucket list. Entah kenapa melihat bukit yang berubah warna itu selalu menjadi buruan saya ^.^

Sehari sebelum terbang ke Jakarta saya sempatkan browsing untuk memantapkan urutan jadwal perjalanan kami karena saya memutuskan memakai Tokyo Wide Pass selama 3 hari jadi harus digunakan dan diaktifkan seefisien mungkin. Maklum harga TWP tidak murah bagi kantong kami, namun sangat berguna untuk seputaran Tokyo. Soal TWP akan saya bahas di postingan lain. 

Kami memang memilih waktu musim semi untuk menjelajah Jepang , selain suhu yang masih sejuk juga tentu saja untuk berburu bunga-bunga 4 musim. Pucuk dicinta ulam tiba, jadwal kami bertepatan dengan mekarnya bunga Tulip dan Nemophila Blue di Miharashi Hill ( jadwal mekarnya bunga bisa cek di sini ). Senang bukan kepalang karena mekarnya bunga memang bisa diprediksi tapi kepastian kapan mekarnya bukan tergantung manusia melainkan Tuhan dan alam yang bekerja ^.^


To be continued... Sementara spoiler foto2 dulu yaaaa 






Kamis, 14 Maret 2019

Homemade Salad Bangkok

Sewaktu kami sekeluarga camping bersama CMid Semarang , ada seorang ibu menawarkan  brokoli yang masih berwarna hijau tua dan segar kepada kami. Berhubung Karen termasuk penggemar brokoli , jadi kami memutuskan membelinya. Harga satu dunak kecil Rp. 15.000,- berisi enam kepala brokoli yang ukurannya tidak terlalu besar. 

Teman kami , Anna juga membeli brokoli dan dia bilang biasa hanya direbus untuk dimakan begitu saja seperti salad. 
Di perjalanan pulang hubby juga mengusulkan brokolinya sebagian dibuat salad saja.

Jadi keesokan harinya di supermarket, saya mencari saus salad siap pakai merk K*wpie , namun berhubung rasa yang saya inginkan tidak tersedia membuat saya terpikir bikin saus sendiri. Kebetulan ada promo selai kacang di supermarket langsung terbesit aha.. Coba saja bikin Salad Bangkok. Rasa Salad Bangkok paling berkesan yang  pernah saya makan adalah pemberian i'ik saya ( adik dari mama ). Kekhasan Salad Bangkok ada pada selada,  kering kentang,  saus kacang dan nanas, sayur yang lain bisa divariasikan. 
Untuk pemilihan sayur lain saya berjalan ke daerah sayuran segar, pas banyak sayur organik yang menggoda mata berjejer di lemari pendingin jadi tambah pengen bercocok tanam ala Little Forest wkwk..kemudian saya pilih beberapa macam sayur yang ingin saya pakai. 

Bermodal coba-coba dan bahan saus yang sederhana , jadilah Salad Bangkok ala saya.  Menurut saya pribadi dan hubby rasa saus ini cocok dengan lidah kami terutama saat berpadu dengan nanas manis dan sayurnya 😉.

Selasa, 01 Januari 2019

Mr. Sunshine - Korean Drama Review


"A history to remember, a sacrifice that shouldn’t forget"

Sepanjang tahun 2018 drama korea yang saya tonton bisa dihitung dengan jari , dan bahkan untuk saeguk ( drama / movie korea yang berlatar belakang sejarah / masa lampau ) seingat saya hanya ada 3 drama yang diluncurkan di Korsel   ( Grand Prince, Mr. Sunshine, 100 days Prince ) . Saya pribadi memang lebih suka mengikuti drakor yang bergenre Saeguk karena sering ditampilkan secara kolosal, didukung dengan pemandangan yang indah ,  hanbok-hanbok berwarna mencolok, dan paling tidak menambah sedikit wawasan sejarah dan budaya masa lalu. 

Senin, 19 November 2018

Movie Korea "Little Forest"

Korea Selatan sering mengangkat film layar lebar yang bertema politik, action, romance , sejarah dan fantasy. Nah, movie Little Forest ini menyajikan tema yang lain dari kebanyakan , setelah saya menonton film ini langsung ada keinginan untuk memasak , bercocok tanam dan hidup di pedesaan yang tenang wkwk.. Yuppp movie ini termasuk 'healing 'movie membuat penonton merasa rileks dan ingin segera melepaskan kepenatannya dengan alam pedesaan.



Senin, 20 November 2017

Workshop Food Photography and Food Styling

Semalam dapat kesempatan ikut workshop yang murmer tapi ilmunya luar biasa karena langsung dibawakan oleh dua orang yang profesional di bidangnya dan mereka adalah orang-orang yang suka berbagi ilmumya dengan sesama wkwk.. Dua orang tersebut sama-sama dari Bali dan mereka fokus di photo commercial untuk food, yaitu Dewandra Djelantik ( food photographer) dan Busha ( food stylist)
Dalam workshop sekitar 5 jam mereka berikan tips-tips dan kesempatan untuk peserta mengamati proses mulai preparing sampai styling si food sampai praktek foto langsung. Berhubung Karen tidak mungkin ditinggal jadilah dia mau gak mau harus ikut dengar dan lihat ditambah break bobok siang di pangkuan mbok wkwk..

Jepretan gw belum setajam prof
maklum bukan lensa macro hihihi..

Rabu, 01 November 2017

Fresto Cafe~ best western food in town

Baru ngeh ternyata belum pernah nulis tentang Fresto Cafe Kudus hehe... Padahal termasuk salah satu cafe fave gw di Kudus. Karena makanan yang disajikan itu fresh dan menu-menu western nya komplit dan enak. Letaknya di area ruko pojokan yang menghadap ke GANG 4 dekat dengan jalan A.Yani.

Tidak heran kalau makanan yang disajikan tidak seperti cafe biasa yang sajikan junk food karena tiap menu baru dimasak setelah dipesan jadi harap sabar ya karena bukan untuk tamu yang ingin makan buru-buru. Dan ownernya sekaligus chef jadi dia yang terjun langsung di kitchen.

Hanya saja karena lokasinya di ruko dan hanya digunakan 1 lantai jadi otomatis belum bisa menampung banyak pelanggan.

Ya sudah kalau penasaran coba saja langsung ya..
Ini beberapa foto saja yang masih ada di hp hehe..


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...