Pages

Tampilkan postingan dengan label Movie Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Movie Review. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Oktober 2025

"No Other Choice" - Review


Sebuah karya terbaru dari Park Chan Wook yang sudah pasti masuk daftar, menantikan gebrakan terkini dari sutradara gila satu ini. "No Other Choice" mendapat review sempurna 100% dari kritikus Rotten Tomatoes (per 2 Oktober 2025), namun sebaliknya, pendapat knetz terpecah antara suka dan tidak suka. Sebagian merasa sangat relate dengan ceritanya. Kubu kecewa pun terbagi antara yang tidak bisa menerima keputusan karakter utama atau kekecewaan karena menaruh ekspekstasi terlalu tinggi pada Park Chan Wook. 

"No Other Choice" tampil jauh lebih sederhana dan lebih relate dengan banyak orang dibanding karya Park Chan Wook sebelumnya, tidak ada plot twist berlapis, intensitas kebrutalan dan kevulgarannya pun rendah, sebaliknya komedi-satir banyak ditonjolkan, membuat penonton ikut tertawa, entah tertawa karena kelakuan para karakter atau menertawakan hidupnya sendiri sebagai sesama korban kapitalisme.

Rabu, 06 Agustus 2025

Takopi's Original Sin (Review)

 


Berawal dari keisengan nonton anime ini di Netflix, dikarenakan penasaran previewnya terlihat menggemaskan namun ratingnya 18+. Langsung dibuka dengan Disclaimer (mengandung topik sensitif, kekerasan, bund*r) padahal tokoh utamanya seorang anak perempuan usia SD. 

Anime yang terdiri hanya 6 episode dengan durasi sekitar 20 menit per episode menyajikan tema kelam namun akrab kita temui di sekitar kita. Bisa jadi berelasi dengan pengalaman pribadi, keluarga, saudara, atau pun tetangga sebelah rumah. Yup, sesuai peringatannya, anime ini mengangkat isu sosial, parenting, pendidikan, hingga trauma.

Bisa ditonton gratis di Youtube Ani-OneIQIYI atau pun berlangganan Netflix 

Senin, 04 Oktober 2021

Piring di Perjamuan

Kita mengenal sebuah karya seniman terkenal berkebangsaan Italia, Leonardo da Vinci, lukisan berjudul “The Last Supper/Perjamuan Terakhir” yang terselesaikan di akhir abad XIV. Di beberapa rumah orang nasrani Indonesia dipastikan lukisan serupa (tentunya bukan yang asli), terpaku di tembok ruang utama sebagai pengingat makna. Pada lukisan tergambar Yesus beserta kedua belas murid, duduk bersama di sebuah meja panjang. Pada meja terdapat cawan-cawan anggur dan beberapa hidangan yang tentunya diletakan di atas piring-piring. Piring-piring hadir dalam perjamuan. Leonardo melukiskan piring terlihat dari material logam dan keramik. Lukisan merupakan imajinasi dari pelukis, dapat berbeda dengan kejadian sebenarnya. Yesus dan para murid belum tentu duduk di kursi, melainkan lesehan dengan meja pendek. Dan bisa saja piring bukan terbuat dari logam atau keramik melainkan batu atau tanah. 

Terlepas dari cara menata di meja dan bahan pembuatnya, piring dipastikan keberadaannya pada acara itu. Piring menjadi saksi bisu bagaimana cara Yesus memecah-mecah roti dan minum anggur memperingati kesakralan, juga menjalani waktu-waktu terakhir bersama para murid.


Senin, 13 September 2021

Rumah dan Penghuninya

Jepang, paska Perang Dunia II, musim panas tahun 1958, terlihat pada film animasi “Tonari no Totoro”(1988)  besutan Studio Ghibli. Keluarga profesor arkeologi universitas, Tatsuo Kasukabe harus pindah ke pinggiran Jepang, mencari rumah yang berdekatan dengan rumah sakit yang merawat istrinya. Pindah ke rumah baru bersama kedua putrinya, Satsuki berusia 10 tahun dan Mei 4 tahun. Jalan menuju rumah terdapat sungai yang ber-ikan dan ber-kecebong. Di seberang rumah, sawah-sawah membentang. Mereka membeli rumah tak berpagar menyatu dengan hutan berpohon kamfer dan lahan hijau luas mengelilingi. Bangunan rumah sudah reyot, terbuat dari kayu yang sebagian sudah lapuk. 

Senin, 23 Agustus 2021

Surat-suratan

Di sela-sela baca dan nulis, nonton film menjadi hiburan disertai rebahan di sofa, syukur-syukur sambil ngemil biar badan tambah subur. Mantengi sebuah film Korea enteng yang mengisahkan romansa alusan orang muda berjudul “Setelah Hujan Berlalu” (Waiting for Rain). Yang bisa ditonton secara legal di lapak ijo dan kuning dengan membayar sejumlah uang untuk berlangganan. 

Sabtu, 31 Juli 2021

Olimpiade dan Perempuan

Setelah tertunda satu tahun, Olimpiade Tokyo 2020 diselenggarakan tahun 2021 ini. Demam Olimpiade melanda dunia, pandemi terlupakan barang sejenak, paling tidak hingga 8 Agustus mendatang. Media yang selama beberapa bulan terakhir terus menerus menyuguhkan berita Covid-19 kini berganti menayangkan siaran langsung berbagai cabang pertandingan  Olimpiade. Meski digelar tanpa penonton, semangat sportivitas dan dukungan masyarakat untuk masing-masing negara terus mengalir lewat media sosial. Tidak mengurangi euforia kehadiran, masyarakat hadir di dunia maya. Sorak sorai lapangan tergantikan cuitan-cuitan Twitter. Kejutan demi kejutan turut meramaikan momen bersejarah yang (seharusnya) terselenggara 4 tahun sekali. Beberapa atlet peringkat satu dunia berhasil dijegal oleh atlet yang tidak dielukan. Beragam komentar dukungan juga hujatan terus membanjiri momen-momen yang berjalan. Ada yang menerima kekalahan dengan lapang dada seraya mengapresiasi jerih payah atletnya, namun ada juga yang dongkol, tidak puas, kecewa karena jagoannya menyia-nyiakan kesempatan langka untuk memperoleh kemenangan. Hari demi hari, satu persatu pemain bertumbangan. Sebagian harus mendahului pulang dengan tangan hampa, sebagian masih tinggal untuk meneruskan perjuangan membela negara, dan sebagian dipastikan setidaknya membawa pulang satu medali emas atau perak ataupun perunggu sebagai bukti kemenangan bela negara.

Sabtu, 13 Maret 2021

Space Sweepers - Antara Khayalan dan Kenyataan

Kali ini mau  kupas movie Space Sweepers, mungkin kalau dibahas detil semua, saya bisa bikin skripsi dari satu film ini wkwk..  Space Sweepers merupakan film luar angkasa Korea pertama yang diproduksi dengan budget 24 Miliar Won ( ~21 juta USD).  Pandemi menyebabkan film ini batal tayang di bioskop yang akhirnya dibeli dan dirilis eksklusif oleh Netflix pada 5 Februari 2021 lalu. Dan sejak hari pertama dirilis langsung menduduki peringkat satu Top Movie Netflix World, dan bertahan di posisi satu selama beberapa hari. Menjadi Film Korea pertama yang menduduki no. 1 di 28 negara di luar Korsel. Sebenarnya ceritanya tidak serumit film Sci-fi pada umumnya, dan juga sengaja meninggalkan terlalu banyak plot-hole. Mengapa? karena Space Sweepers sendiri akan dikembangkan menjadi berbagai konten IP (Intellectual Property) seperti webtoon bisa dibaca disini ), game, spin-off dan sebagainya. Karena ada banyak plot hole menjadikannya  bisa dibahas panjang lebar dan tinggi hahaha.. jadi disini saya tidak akan mengulas filmnya ( pernah saya review cuman di status, dan akan saya taruh reviewnya di akhir tulisan ) tapi lebih membahas film ini dari berbagai pandangan. 

Selasa, 01 Desember 2020

Aneka Review Film

Ini kumpulan review-review iseng gw yang biasa cuman gw taruh di status WA dan  masih kesimpen ( banyak yang kehapus juga haha gak kepikir 'ngarsip)

* #Alive sudah tersedia di Netflix, 
waktu saya nonton belum rilis di Netflix 

Rabu, 27 Mei 2020

Movie "House of Hummingbird"

"Penuh dengan orang-orang yang wajahnya kita kenal,
tapi berapa banyak dari mereka yang benar-benar memahami dirimu ?"

Ungkapan "Masa remaja adalah masa yang paling indah" rupanya tidak berlaku bagi seorang Eun Hee. Bagaimana tidak, gadis 14 tahun terlahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara dengan seorang kakak laki dan kakak perempuan, dibesarkan dengan lingkungan rumah susun yang sangat sederhana , kedua orang tuanya seharian harus mencari nafkah dengan berjualan kue beras. Eun Hee sering melihat kakak perempuannya membolos bahkan membawa teman pria tidur di kamar mereka. Kakak laki-lakinya merupakan kebanggan sang ayah, selalu mendapat perhatian dan semua yang terbaik di rumah itu , tak ayal pun sering berlaku semena-mena, memukul Eun Hee dengan tongkat kendo apabila tidak mau melakukan perintahnya. Perang mulut bahkan menjurus kekerasan fisik oleh kedua orang tuanya merupakan pemandangan yang biasa terjadi di depan anak-anak. Anehnya, keesokan hari kedua orangtuanya sudah duduk dan berbincang seperti biasa. Tidak ada kehangatan yang Eun Hee dapatkan di dalam keluarga, dia tidak bisa berbagi akan apa yang dialami kepada ayah ibunya maupun saudaranya.  Hidupnya benar-benar sendiri dan mandiri bahkan tanpa pendampingan keluarga saat dia harus menjalani pemeriksaan tumor dan biopsi. 

Jumat, 07 Februari 2020

Review Film "Semes7a"



Semes7a ( dibaca Semesta ) menyuguhkan 7 cerita propinsi Indonesia, dari 7 sosok inspiratif masa kini yang berjuang untuk pelestarian alam,  beserta 7 kisah mereka bersama Sang Pencipta. Ya.. karena 7 adalah angka sakral dalam beberapa agama dan kepercayaan maka menyelipkan "7" di dalam judul sangat mewakili apa yang akan disampaikan disini.

Saya bukan pengamat film Indonesia tapi saat melihat portofolio dari orang-orang di balik pembuatannya, membuat saya yakin bahwa film ini dibuat sangat serius dan artistik sehingga durasi 88 menit tidak terasa.

Berbekal isu krisis iklim di 7 daerah dari Timur sampai Barat , Utara sampai Selatan Indonesia, film besutan sutradara Chairun Nissa  tidak sekedar menampilkan informasi dan fakta , namun juga memadukannya dengan cinematography keindahan alam Indonesia dari berbagai sisi ditambah dengan tata suara yang elegan. Tidak mengherankan jika film ini terpilih sebagai nominasi Festival Film Indonesia 2018.

Note : tulisan di bawah mengandung spoiler !

Selasa, 01 Januari 2019

Mr. Sunshine - Korean Drama Review


"A history to remember, a sacrifice that shouldn’t forget"

Sepanjang tahun 2018 drama korea yang saya tonton bisa dihitung dengan jari , dan bahkan untuk saeguk ( drama / movie korea yang berlatar belakang sejarah / masa lampau ) seingat saya hanya ada 3 drama yang diluncurkan di Korsel   ( Grand Prince, Mr. Sunshine, 100 days Prince ) . Saya pribadi memang lebih suka mengikuti drakor yang bergenre Saeguk karena sering ditampilkan secara kolosal, didukung dengan pemandangan yang indah ,  hanbok-hanbok berwarna mencolok, dan paling tidak menambah sedikit wawasan sejarah dan budaya masa lalu. 

Senin, 19 November 2018

Movie Korea "Little Forest"

Korea Selatan sering mengangkat film layar lebar yang bertema politik, action, romance , sejarah dan fantasy. Nah, movie Little Forest ini menyajikan tema yang lain dari kebanyakan , setelah saya menonton film ini langsung ada keinginan untuk memasak , bercocok tanam dan hidup di pedesaan yang tenang wkwk.. Yuppp movie ini termasuk 'healing 'movie membuat penonton merasa rileks dan ingin segera melepaskan kepenatannya dengan alam pedesaan.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...